Senin, 23 September 2019

CORAT CORET PIKIRAN LUSUH


 Usahakan baca buku 5 menit per hari

Tak sedikit yang memperbincangkan tentang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebuah himpunan mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Sudah 72 tahun (1947-2019) himpunan ini berdiri, sejak masa-masa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.
Sudah banyak alumni yang dihasilkan dari himpunan ini. Mereka tersebar di segala lapangan profesi, baik di lingkungan pemerintahan maupun di tengah-tengah masyarakat.
Di lembaga-lembaga masyarakat, eksistensi mereka diperhitungkan baik di tingakat pusat maupun daerah. Ada yang mengisi jabatan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu mereka juga memiliki peranan yang menonjol dalam berbagai bidang, seperti LSM, ormas, dan dunia usaha.
HMI Antara Kualitas dan Kuantitas. Saat ini di kampus unars situbondo (yang biasanya dalam hal kualitas maupun kuantitas bisa diadu,) namun kader HMI di kampus tersebut menjadi kerdil dan tak punya nyali sebagaimana layaknya pejuang. Mereka hanya bisa merongrong organisasinya sendiri tanpa mampu memberikan sumbangsih prestasi yang dapat menjadi kebanggaan bagi para kader.

Biasanya kader HMI selalu menjadi langganan sebagai Mahasiswa Prestasi (MAWAPRES), Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan beberapa organisasi kemahasiswaan lainnya. Sekarang hanya sebatas angan-angan belaka dan untuk saat ini 2019 hmi komisariat situbondo mengisi ruang fakultas ekonomi hukum, dan fkip, selebihnya ada dibeberapa ukm.

Ini bagian dari jawaban kita bersama, bahwa pengkaderan saat ini hanya sebatas untuk memenuhi kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas yang bisa dihasilkan untuk dapat menjadi kader yang dapat fokus pada perjuangan ide organisasi, pergerakan politik, dan ide kenegaraan.

Hanya sebatas mencari kader dalam rangka suksesi merebut kursi eksekutif maupun legislatif di tengah geliat perpolitikan kemahasiswaan kampus.

Sementara itu, demi mengedepankan kualitas, maka perlu kiranya organisasi ini beracuan pada tiga fokus perjuangan, agar dapat menciptakan insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan nilai-nilai keislaman yang bertanggungjawab atas terbinanya masyarakat adil makmur yang diridhai oleh Allah SWT, sesuai dengan tujuan dibentuknya HMI.

Tiga Fokus Perjuangan. Ada tiga fokus perjuangan yang disampaikan oleh Mahfud MD[1] yang cukup kuat pengaruhnya dalam membentuk kepribadian kader HMI. Pertama, HMI merupakan organisasi perjuangan yang mematangkan ide organisasi.

Munculnya organisasi HMI dalam rangka untuk mewadahi pengkaderan Mahasiswa Islam sebagai generasi muda penerus perjuangan yang akan ditagih eksistensinya dalam mengisi kemerdekaan untuk melunasi janji kemerdekaan yang tertuang dalam pembukaan UUD NRI 1945.[2]

Dalam mencapai tujuannya, HMI senantiasa melakukan pematangan-pematangan gagasan organisasi. Bukan menjadi hal yang aneh ketika HMI menjadi ladang subur berbagai gagasan. Sehingga, organisasi ini menjadi sangat dinamis.

Dinamika yang ada pada internal kadang menjurus kepada ketegangan-ketegangan yang mengakibatkan perpecahan. Hal semacam itu terjadi dikarenakan adanya perbedaan gagasan. Di situlah justru gagasan-gagasan yang telah ditawarkan dapat dimatangkan.

Sehingga, bukan hal yang aneh jika dari rahim HMI banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang matang dalam berorganisasi.

Kedua, perjuangan dalam pergerakan politik. HMI merupakan suatu organisasi politik Mahasiswa Islam di kampus yang tidak berbentuk partai politik dengan orientasi untuk mengisi kemerdekaan dengan harapan para alumni-alumninya nanti dapat berbuat banyak untuk membangun negara.

Hal ini bisa kita rasakan bersama bahwa adanya suatu komunikasi yang intens di kalangan para alumni yang terwadahi dalam Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Ketiga, perjuangan dalam mematangkan ide kenegaraan. Hal ini memiliki hubungan erat dengan perjuangan dalam mematangkan ide organisasi. Sejak awal HMI sudah akrab dengan diskursus mengenai keislaman dan keindonesiaan. Buah pemikiran yang dilahirkan dari organisasi dapat memberikan kontribusi besar terhadap penentuan dan pemantapan dasar-dasar ideologi negara yang plural dan religius.

Perlu kita ketahui bersama bahwa ketiga fokus perjuangan di atas merupakan bagian dari sejarah HMI, sedikit banyak telah terabaikan oleh para kader generasi penerus perjuangan himpunan terbesar dan tertua ini, bahkan tidak sedikit nafas perjuangan para kader HMI saat ini bermuara pada suatu perjuangan menegedepankan kuantitas daripada kualitas, yang seharusnya keduanya dapat terpenuhi dengan baik.

Menjadi wajar jika HMI saat ini mengalami degradasi, baik dalam hal gagasan/pemikiran maupun pengkaderan, karena tidak ada gagasan cerdas yang disumbangkan oleh HMI kepada Republik ditengah carut-marut dan tunggal langgangnya tatanan Republik ini.

Republik ini sedang mengalami krisis multi-dimensional diantaranya Permasalahan disintegrasi, ekonomi, supremasi hukum, pendidikan, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan yang semuanya membutuhkan penanganan cepat.
[1] Sambutan Mahfud MD dalam buku HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) 1963-1966 Menegakkan Pancasila ditengah Prahara (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2003) Hal. ix
[2] Pembukaan UUD NRI 1945 alinea ke-IV: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Bpl ilegal 🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar